Kisah Bima Arya Disebut Gila Saat Lebarkan Pedestrian Ketimbang Jalan

Kisah Bima Arya Disebut Gila Saat Lebarkan Pedestrian Ketimbang Jalan

Kisah Bima Arya Disebut Gila Saat Lebarkan Pedestrian Ketimbang Jalan

 

Kisah Bima Arya Disebut Gila Saat Lebarkan Pedestrian Ketimbang Jalan

Pak Bima Arya

“Bagaimana cara Pak Bima Arya agar kebijakan yang dibuat bisa diterima oleh semua warga?,” tanya Armando, mahasiswa asal Papua yang merupakan peserta Eco Diplomacy 2018 yang digelar di di YTKI Ballroom, Jakarta, Kamis (29/11/2018).

Mendapat pertanyaan itu, Bima Arya menjawab bahwa prinsip utama seorang pemimpin adalah jangan pernah bercita-cita bisa menyenangkan semua orang. “Itu nggak mungkin. Selalu ada yang suka dan tidak suka. Selalu ada yang pro dan kontra dalam setiap kebijakan yang kita buat,” ungkap Bima.

“Bahkan, sejarah mengajarkan kita bahwa para Nabi dan Rasul yang makom atau tingkatnya lebih tinggi di atas kita, banyak penentang dan melawan. Jadi kalau kita diterima semua orang, dicintai semua orang, berarti kita lebih tinggi dari Nabi dan Rasul? Itu ga mungkin. Jadi pemimpin harus siap untuk tidak populer,” tambahnya.

Namun, lanjut Bima

bukan berarti pemimpin boleh membuat kebijakan seenaknya. “Ada catatannya. Selama beberapa hal yang dilakukan punya konsep yang jelas tentang kebijakan, selalu sosialisasi dengan baik dan pastinya harus konsisten. Ketika saya melarang tas plastik, itu hampir setahun kita komunikasi dengan retail-retail, masyarakat, komunitas, akademisi. Kita undang, ajak bicara. Ketika kita melarang merokok, itu sosialisasinya tidak berhenti sampai sekarang. Dijelaskan semuanya. Dan yang penting kalau kita buat aturan, kita harus yang lebih konsisten terhadap aturan tersebut,” beber dia. contoh report text tentang bencana alam

Bima Arya pun berkisah saat dirinya gencar melakukan pembangunan pedestrian untuk menggairahkan kembali semangat warga untuk berjalan kaki dan berolahraga. Saat itu, kebijakan penataan kota dengan melakukan pelebaran pedestrian banyak dikritik bahkan cenderung mencemooh dirinya.

Kami bangun pedestrian besar

Saya dikritik dan di bully waktu itu ‘Nih Walikota gila ya, bukan jalan dilebarin, malah trotoar yang dilebarin’. Ada juga yang pesimis ‘Lihat aja nanti pasti banyak PKL, banyak sampah dan sebagainya’. Apa yang terjadi? nggak ada itu semua yang dikhawatirkan banyak orang. Malah jadi favorit warga untuk berolahraga,” terang Bima.

Artinya, lanjut dia, dengan infrastruktur yang baik, makan akan terbangun kultur yang baik. “Nomor satu memang harus aparaturnya. Makanya saya bilang Pak Lurah, Pak Camat, ukuran saya cuma satu kalau kalian mau naik pangkat, yakni foto. Foto apa? Foto before and after. Tunjukan kerja nyata dalam mengubah wilayah, foto sebelum dan sesudah dikerjakan. Supaya mereka bisa bekerja lebih cepat untuk mengubah menjadi lebih baik lagi,” pungkasnya.

Eco Diplomacy 2018 merupakan sebuah acara yang digelar oleh Yayasan Econusa sebuah lembaga yang bergerak di bidang lingkungan hidup ini menghadirkan ratusan peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Tujuannya, untuk membentuk generasi penerus yang dapat menjadi pelindung atau pelestari lingkungan hidup di Tanah Air.

Selain Bima Arya

turut menjadi pembicara Tasya Kamila yang merupakan seorang publik figur serta penggiat lingkungan. Selain itu ada juga, Charles Toto dari The Jungle Chef dan Kepala Pusat Pelatihan Masyarakat dan Pengembangan Generasi Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup.