Lantai atas ruang Belanda (  ruang tunggu )

Lantai atas ruang Belanda (  ruang tunggu )

Lantai atas ruang Belanda (  ruang tunggu )

Lantai atas ruang Belanda (  ruang tunggu ) Terdapat 3 lukisan kisah nyata tentang pengadilan karya JJ Denish pada tahun 1660.

  1. Gambar tengah.

Raja Solomo ( Nabi Sulaiman ) mengambil keputusan yang bijaksana mengenai peristiwa seorang bayi, yang diperebutkan oleh kedua wanita / orang yang mengaku sebagai ibunya.

            Akhirnya dipanggilah seorang algojo untuk membelah bayi agar dibagi dua supaya adil, akan tetapi baru saja akan dibelah maka berkatalah seorang ibu dengan ucapan  “jangan lebih baik bayi ini diberikan kepada ibu yang berdiri disebelah ini”. Demikian dan akhirnya hakim memutuskan bahwa wanita yang berbicara itulah ibu kandungnya, dengan alasan siapa yang mengandung dan melahirkan merasa tidak tega mendengar bayi tersebut akan dibagi dua.

  1. Sebelah kanan .

Raja sekaligus menyusun undang – undang ZALAUKOS dari Lokri ( Yunani pada abad ke VII M ) siap mengorbakan salah satu matanya untuk mengindahkan hukum yang diundang- undangkan sendiri dengan demikian Raja ingin menyelamatkan salah satu mata putranya yang harusnya ditusuk kedua matanya karena melanggar hukum itu dengan berjinah.

  1. Sebelah kiri.

Raja Persia Cambises abad ke V M yang sedang memerintahkan agar Hakim Korup SISAMNES dikuliti, lalu putranya Sisamnes menggantikan ayahnya yang kulitnya dipakai  untuk melapisi kursi Hakim. Ini adalah sebuah peringatan keras bagi para Hakim – Hakim yang dapat disuap.

  1. Ruang Sidang.

Diruang sidang ini ada beberapa pahlawan kita yang pernah diadili diantaranya adalah Pangeran Diponogoro, Cut Nyadien dan Untung Suropati. Ada beberapa peniggalan disini antara lain adalah :

Pedang hukum, pedang ini pernah digunakan untuk hukum pancung / penggal kepala. Konon pedang ini pernah digunakan untuk memancung  + 500 orang Cina pada tahun 1740, mereka dipancung disekitar gedung Stad Huis ada pula yang dipancung disekitar sungai yang sekarang kita kenal dengan nama kali merah dan kali mati. Jasad mayat tersebut tdiak dikuburkan secara layak melainkan dibuang ke sungai sampai mayat – mayat tersebut terbawa arus sungai dan berakhir di kali angke dan muara angke.

Sumber :

https://nomorcallcenter.id/