Mengenal Legenda Gunung Batu Bangkai

Mengenal Legenda Gunung Batu Bangkai

Mengenal Legenda Gunung Batu Bangkai

Mengenal Legenda Gunung Batu Bangkai
Mengenal Legenda Gunung Batu Bangkai

Zaman dahulu

di suatu tempat di Kalimantan Selatan, hiduplah seorang janda tua bersama seorang anak lakinya yang bernama Andung Kuswara. Selain mencari kayu, Andung juga pandai mengobati penyakit.  Mereka hidup rukun dan saling menyayangi. Setiap hari mereka bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari hari. Setiap hari Andung mencari kayu bakar atau bambu untuk dijual, sedangkan ibunya mencari buah-buahan atau daun-daun untuk dimasak.

Suatu pagi Andung pergi ke hutan

untuk mencari kayu. Tak terasa waktu sudah senja, Ia pun bergegas pulang. Pada saat dalam perjalanan pulang, Andung mendengar jeritan seseorang minta tolong.  Ternyata di dapatinya seorang kakek yang kakinya terjepit pohon.  Andung segera menolong si kakek dan mengobati lukanya. Orang tua itu berterima kasih dan memberikan sebuah benda sebagai tanda terima kasih.  Benda tersebut adalah sebuah kalung.

Sesampai di rumah Andung bercerita kepada ibunya

Selesai bercerita, Ia menyerahkan kalung pemberian Kakek tua tadi. Ia ingin ibunya yang menyimpannya baik-baik. Sang ibu merasakan ada sesuatu yang beda dari kalung ini, dia begitu indah. Sang ibu kemudian menyimpan kalung itu di bawah tempat tidurnya.

Hari berganti hari, Andung mulai merasakan tidak puas dengan yang didapatnya sekarang. Andung termenung dan bertanya pada Tuhan, “Tuhan, apakah kehidupanku akan seperti ini selamanya? Aku ingin hari depanku lebih baik dari hari ini. Tapi bagaimana caranya?”. Selintas dibenaknya Ia berpikir, “Kenapa tidak aku merantau?! Dengan bekal ilmu pengobatan yang aku punya dari Ayah, pasti aku bisa berhasil!”.

Karena terdorong ingin merubah nasibnya

tersebut Andung membulatkan tekadnya ingin merantau.  Dengan berat hati ibunya mengijinkan Andung, anak semata wayangnya, pergi merantau.  Sebelum pergi, Ia mendapat pesan dari Umanya, “Andung, ingatlah Uma! Ingat kampung halaman dan tanah leluhur kita. Jangan pernah melupakan Tuhan yang Mahakuasa. Walau berat, Uma tak bisa melarangmu pergi. Jika takdir menghendaki, kita tentu akan berkumpul kembali”. Tidak lupa ibunya memberikan kalung yang diberikan oleh bapak tua.

Andung meneteskan air mata, Ia memeluk ibunya dan mencium tangannya. Andung berjanji Ia akan segera kembali jika sudah berhasil. Berbulan-bulan sudah Andung meninggalkan kampung halamannya. Ia banyak sekali melewati kampung dan negeri-negeri. Berbagai pengalaman pun telah Ia raih, dan ilmu pengobatan yang dimilikinya benar-benar bermanfaat bagi orang banyak.

Pada suatu hari, Andung bertemu dengan seorang petani yang penuh dengan bisul.  Karena kasihan, Andung berusaha untuk mengobati petani tersebut.  Dan, ternyata Andung berhasil.  Bapakk tua ini bercerita bahwa bukan Ia saja yang memiliki penyakit tersebut, namun hampir semua orang di Negeri Basiang sedang tertimpa malapetaka berupa penyakit kulit. Karena merasa hutang budi, maka Andung diajak bermalam dirumahnya. Petani tua itu pun menceritakan kepada orang-orang di desanya, kalau bisul-bisulnya sudah dapat disembuhkan oleh Andung. Semua penduduk kemudian menjumpai Andung, mohon untuk dapat disembuhkan juga. Andung melayani mereka dengan senang dan mereka semua telah diobati dan menjadi sembuh. Kemampuannya pun telah menyebar keseluruh negeri. Kabar tentang kemampuan Andung dalam mengobati menyebar ke seluruh negeri.

Sementara itu di kerajaan Basiang, sang raja sedang bermuram durja.  Sudah dua minggu putrinya tergolek tak berdaya.  Wajahnya pucat pasi dan tergolek tak berdaya.  Berita kepandaian Andung terdengar hingga ke kerajaan Basiang.  Andung diberi kesempatan untuk mengobati sang putri.  Beragam upaya dilakukan tapi tidak berhasil. Hati Andung tergerak untuk menggunakan hadiah kalung yang pernah di berikan oleh bapak tua di hutan.  Andung pun bersedia untuk mencoba, dan meminta maaf sebelumnya, jika Ia tidak berhasil menyembuhkan sang Puteri.

Puteri tergolek lemah tak berdaya. Mukanya pucat sekali dan bibirnya tertutup rapat, tapi wajahnya tetap memancarkan kecantikan. Andung melihat dan terpesona oleh kecantikannya. Ia pun mulai mengerahkan kemampuannya untuk membangunkan sang Puteri. Namun sayang Puteri tetap tidak bergerak. Hal itu membuatnya hampir putus asa. Seketika itu juga Ia teringat kalung pemberian sang Kakek dulu. Andung segera merendam kalung tersebut, dan air rendamannya diambil dan dibacakan doa, lalu dipercikkan ke mulut sang Puteri. Sesaat setelah itu Puteri pun terbangun. Matanya perlahan-lahan terbuka dan wajahnya segar kembali. Akhirnya Puteri bangkit dan duduk di pembaringan.

Semua penghuni istana sangat bergembira dan mereka merayakan kesembuhan sang Puteri. Paduka Raja sangat berterimakasih padanya. Atas jasanya, Paduka Raja memberikan Puterinya kepada Andung untuk dinikahi. Alangkah senangnya Andung! Pesta perkawinan digelar tujuh hari tujuh malam. Mereka pun larut dalam romantisme cinta mereka dan hidup bahagia, di kerajaan Basiang.

Beberapa bulan kemudian, Istri Andung pun mengandung. Ketika sang putri hamil, ia ingin makan buah kasturi yang hanya tumbuh di Pulau Kalimantan. Karena cintanya, Andung pun berlayarlah Ia beserta para hulubalang dan berburu buah kasturi hingga ke Pulau Kalimantan.

Tak disangka Pohon Kasturi yang telah ditemukannya berada tepat di depan rumahnya dahulu, di kawasan Loksado. Ibunya yang berada di dalam rumah mendengar ada keributan kecil di halaman. Ibu Andung kemudian berjalan dengan tertatih-tatih menengok keluar. Alangkah terkejutnya Andung, karena yang Ia lihat adalah Ibu kandungnya. Betapa malu Andung melihat ibunya yang sudah tua dan miskin.  Ia tidak mau mengakui ibunya.

Seraya berjalan, ibunya memanggil, “Andung… anakku.. Andung !!” suara serak ini terus memanggil dan mengejar rombongan Andung. Andung menoleh ke arah ibunya dan berkata dengan kasarnya, “Hai nenek tua, aku adalah Raja keturunan Bangsawan, aku tidak mengenalmu. Bagaimana mungkin engkau nenek renta dan dekil mengaku sebagai Ibuku!”. Ia kemudian memalingkan muka dan pergi.

Sedihlah hati ibu Andung. Nenek tua itupun berdoa, “Ya Tuhan, tunjukkanlah kekuasaan dan keadilan-Mu”. Dengan menangis dan dengan bibir yang bergetar, sang ibu berdoa mohon kekuatan, tiba tiba petir dan halilintar mulai menyambar membelah bumi, bagaikan alam sedang menampakkan kemarahan yang begitu dahsyat. Langit mendadak gelap gulita, badai bertiup kencang, hujan lebat pun merajalela.

Andung tersadar, dan dia berteriak, “Maafkan aku Ibuuuu ..!”. Namun semuanya sudah terlambat. Seketika itu Andung berubah menjadi batu berbentuk bangkai manusia.

Karena kemiripan tersebut, maka penduduk sekitar gunung itu menamainya dengan sebutan Gunung Batu Bangkai. Gunung Batu Bangkai dapat di jumpai di Kecamatan Loksadu, hulu sungai selatan Kalimantan Selatan.