Model-model Penciptaan  Suasana Religius di Sekolah

Model-model Penciptaan  Suasana Religius di Sekolah

Model adalah sesuatu yang dianggap benar, tetapi bersifat kondisional. Karena itu, model penciptaan suasana religius sangat dipengaruhi oleh situasi dan kondisi tempat model itu akan diterapkan beserta penerapan nilai-nilai yang mendasarinya. Ada beberapa macam model-model penciptaan suasana religius, antara lain: (1). Model Struktural, yaitu penciptaan suasana religius yang disemangati oleh adanya peraturan-peraturan, pembangunan kesan, baik dari dunia luar atas kepemimpinan atau kebijakan  suatu lembaga pendidikan atau suatu organisasi. Model ini bersifat “top-down” yakni kegiatan dibuat atas prakarsa atau intruksi dari pejabat/pimpinan atasan. (2). Model Formal, yaitu penciptaan suasana religius yang di dasari atas pemahaman bahwa pendidikan agama adalah upaya manusia untuk mengajarkan masalah-masalah kehidupan akhirat saja atau  kehidupan rohani saja. Peserta didik diarahkan untuk menjadi pelaku agama yang loyal, memiliki sikap comitment (keperpihakan) dan dedikasi (pengabdian yang tinggi terhadap agama yang dipelajarinya).Sementara itu, kajian-kajian keilmuan yang bersifat empiris, rasional, analitis-kritis, dianggap dapat menggoyahkan iman sehingga perlu ditindih oleh pendekatan keagamaan yang bersifat normative dan doktriner. (3). Model mekanik, penciptaan suasana religious yang didasari oleh pemahaman bahwa kehidupan terdiri dari berbagai aspek; dan pendidikan dipandang sebagai penanaman dan pengembangan seperangkat nilai  kehidupan, yang masing-masing bergerak dan berjalan menurut fungsinya.

  1. Kritik, Apresiasi dan Komentar

  1. Buku Paradigma Pendidikan Islam karya Prof. Dr. H Muhaimin, M.A. merupakan kumpulan tulisan beliau, tidak fokus membahas satu persoalan atau satu temasaja .
  2. Pada buku ini belum menyinggung produktivitas dan target sekolah, seperti apa yang disampaikan oleh Qomar (2007: 298) dalam buku Manajemen Pendidikan Islam bahwa criteria keberhasilan manajemen pendidikan Islam adalah produktivitas pendidikan yang dapat diukur dari sudut efektifitas dan efisiensi pendidikan.
  3. Kehadiran buku ini, mencoba memberikan gambaran tentang permasalahan-permasalahan yang terjadi dalam dunia pendidikan Islam, terlebih dengan kondisi saat ini yaitu terjadinya kemerosotan moral baik dilingkungan masyarakat ataupun dilingkungan sekolah. Menurut Abuddin Nata (2005: 181) mempelajari Islam dengan segala aspeknya tidak cukup hanya dengan menggunakan metode ilmiah. Begitu juga Islam tidak dapat hanya dipahami dengan metode doktriner. Kedua metode tersebut harus dipadukan sehingga kita dapat mempelajari dan memahami Islam secara utuh dan komprehensif. Disiplin ilmu umum beserta metode-metode dasar, prinsip, problema, tujuan, hasil-hasil pencapaian dan keterbatasannya harus dikaitkan kepada khazanah Islam.

sumber :

https://reflejosocial.com/king-of-shooter-apk/