Penetasan Telur

Penetasan Telur

Setelah memijah pada malam harinya, esok harinya induk dipindah dan dikembalikan ke kolam pemeliharaan induk. Hal ini agar telur – telur yang telah dihasilkan tidak dirusak oleh induk koi. Telur yang dihasilkan oleh induk ikan koi betina dengan berat 1,7 kg ini adalah 40.000. Adapun penghitungan fekunditasnya, dapat dilihat pada Lampiran 2.Telur menetas pada hari ke – 3 setelah proses pemijahan. Menurut pembudidaya ikan koi, diperlukan suhu yang stabil pada saat proses penetasan telur. Jika cuacanya tidak mendukung, yaitu setelah hujan panas atau sebaliknya, telur tidak akan menetas optimal. Hal ini sesuai dengan pendapat Susanto (2000), yaitu agar menetas dengan baik, telur harus selalu terendam dan suhu air konstan. Jika suhu terlalu dingin, penetasan akan berlangsung lama. Selain itu, aerasi harus selalu dipasang untuk menjaga kadar oksigen terlarut dalam hari. Telur yang dibuahi sempurna adalah telur yang berwarna putih bening, sedangkan apabila telur itu berwarna putih susu, telur tersebut tidak dibuahi atau disebut telur bonor. Setelah telur menetas,enceng gondok tidak dipindahkan, dibiarkan disitu sebagai tanaman air. Adapun daya tetasnya (HR) adalah 36.000 larva atau 90 %. Cara penghitungannya dapat dilihat pada Lampiran 2. Hal ini karena pada saat itu kondisi sangat optimal untuk penetasan telur ikan koi. cuacanya yang tidak berubah – ubah secara ekstrim tidak menyebabkan fluktuasi suhu yang berlebihan. Adapun larva yang baru menetas adalah masih bersembunyi dibalik enceng gondok. Panjangnya adalah 0,4 – 0,7 cm. Koi yang baru menetas ini masih berwarna kuning keemasan keseluruhannya, dan saat berumur waktu tertentu akan berubah warnanya masing – masing.

Persyaratan Kualitas Air

            Untuk media pemijahan dan pemeliharaan larva ikan koi, dibutuhkan air yang jernih. Karena air sangat mempengaruhi penetasan telur dan warna pada ikan koi. Adapun kualitas air yang digunakan pada pembenihan ikan koi ini adalah suhu 25oC – 28oC dan pH 7 – 7,5.

Air yang digunakan berasal dari air keran yang bersumber dari PAM ditampung terlebih dahulu di tandon air dan bisa langsung dipakai untuk budidaya ikan koi. Hal ini tidak sesuai dengan pendapat Khairruman (2000), air yang digunakan harus sudah disaring dan diendapkan 24 jam karena air PAM yang masih baru tidak dapat digunakan langsung dalam proses pemijahan, karena masih mengandung klorin.  Selain itu, media pemijahan ini dipasang aerasi. Aerasi sebanyak 4 batu aerasi ini bermanfaat untuk menjaga agar oksigen dalam media pemijahan dan pemeliharaan larva tetap stabil. Jika air diisikan ke dalam bak pada pagi hari pada pukul 07.00, induk akan dimasukkan sore hari pada pukul 16.00. Hal ini dimaksudkan agar suhu air dalam bak hangat dan mempercepat pemijahan induk ikan koi.

https://movistarnext.com/