Pengertian Ayat Muhkam Dan Mutasyabih

Pengertian Ayat Muhkam Dan Mutasyabih

Pengertian Ayat Muhkam Dan Mutasyabih

 

Pengertian Ayat Muhkam Dan Mutasyabih
Pengertian Ayat Muhkam Dan Mutasyabih

 

Muhkam

Kata Muhkam berasal dari kata ihkam, yang secara bahasa berarti kekukuhan, kesempurnaan, keseksamaan dan pencegahan.Namun tiruana pengertian di atas intinya kembali kepada makna pencegahan. Ahkam al-amr berarti ia menyempurnakan suatu hal dan mencegahnya dari kerusakan.Ahkam al-faras berarti membuat kekang pada verbal kuda untuk mencegahnya dari goncangana . Sedangka kata Mutasyabihah berasal dari kata Tasyabuh yang secara bahasa berarti keserupaan dan kesamaan yang biasanya membaa kepada kesamaran antara dua hal.
Dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang memakai kedua kata ini atau kata terjadinya, menyerupai :
1. Firman Allah dalam surah Hud ayat 2
” Sebuah kitab yang disempurnakan (dijelaskan) ayat-ayatnya”.
2. Firman Allah dalam surah Al-Zumar ayat 23
” yaitu Al-Qur’an yang serupa (mutasyabih) lagi berulang-ulang…”
3. Firman Allah dalam surah Ali imran ayat 7

“Dialah yang menurunkan Al-kitab (Al-Qur’an) kepada engkau diantara isinya yang muhkamat, itulah pokok-pokok isi Al-Qir’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabiha, adapun orang-orang dalam hatinya condong kepada kesesatan maka mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat dari padanya untuk mengakibatkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata :”Kami diberiman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, tiruananya itu dari sisi yang kuasa kami”. Dsn tidak sanggup mengambil pelajaran (dari padanya) melainkan orng-orang yang berakal”.

3 Pendapat Ayat Tersebut

Secara sepintas dari tiga ayat tersebut diatas mengakibatkan pemahaman yang berperihalan. Karena itu Ibnu habib Al-Naisaburi menceritakan adanya tiga pendapat wacana persoalan ayat tersebut di atas antara lain :
1. Berpendapat bahwa Al-Qir’an seluruhnya muhkam berdasarkan ayat pertama
2. Berpendapat bahwa Al-Qir’an seluruhnya mutasyabih berdasrkan ayat ke dua
3. Berpendapat bahwa sebagian Al-Qir’an muhkam dan lainnya mutasyabih berdasarkan ayat yang ketiga, dan inilah pendapat yang paling shahih.

Baca Juga: Sifat Allah

Muhkan dan Mutasyabih

Sedangkan muhkam dan mutasyabih berdasarkan Al-zarqani mendefenisikan sebagai diberikut :
Muhkam ialah ayat yang dijelaskan maksudnya lagi faktual dan tidak mengandung kemungkinan nasakh. Sedangkan mutasyabih ialah ayat-ayat yang tersembunyi maknanya, tidak diketahui maknanya baik secara akli maupun naqli dan inilah ayat-ayat yang spesialuntuk Allah yang mengetahui menyerupai hadirnya hari kiamat, huruf-huruf yang terputus-putus di awal surah.pendapat ini dibangsakan oleh al-Alusi kepada pemimpin-pemimpin mazhab Hanafi
Muhkam ialah ayat-ayat yang diketahui maksudnya baik secara faktual maupun takwil. Sedangkan mutasyabih ialah ayat yang spesialuntuk Allah yang mengetahui maksudnya.Pendapat ini dibangsakan kepada andal sunnah sebagai pendapat yang terpilih dikalangan mereka.

Muhkam ialah ayat yang tidak mengandung kecuali satu kemungkinan yaitu makna takwil. Sedangkan mutasyabih ialah ayat yang banyak mengandung kemungkinan mkna takwil. Pendapat ini dibangsakan kepada Ibnu Abbas dan kebanyakan andal permintaan fiqhi yang mengikutinya.

Muhkam ialah ayat berdiri sendiri dan tidak memerlukan keterangan. Mutasyabih ialah ayat yang tidak berdiri sendiri, tetapi tidak memerlukan keterangan. Kadang-kadang diterangkan dengan ayat atau keterangan tertentu dan kali yang lain diterangkan dengan ayat dan keterangan yang lain pula alasannya yaitu terjadinya perbedaan mentakwilkannya. Pendapat ini diceritakan dari Imam Ahmad r.a

Muhkam ialah ayat yang terperinci maknanya dan tidak masuk kepadanya isykal (kepelikan). Mutasyabih ialah lawannya. Muhkam terdiri atas lafal-lafal nash dan lafal zahir. Sedangkan mutasyabih terdiri atas ism-ism (kata-kata benda) musytarak dan lafal-lafal mubhamah (samar-samar). inilah pendapat Al-Thibi

Muhkam ialah ayat-ayat yang seksama susunan dan urutannya yang membawa kepada kebangkitan makna yang tepat tanpa perperihalan. Sedangkan mutasyabih ialah ayat yang makna seharusnya tidak terjangkau dari segi bahasa kecuali kalau ada bersamanya indikasi atau melalui konteksnya dan lal musytarak masuk kedalam mutasyabih berdasarkan pengertian ini. Pendapat ini dibangsakan kepada Imam Al haramain

Muhkam ialah ayat yang tunjukkanaknanya berpengaruh yaitu lafal nash dan lafal zahir. Sedangkan mutasyabih ayat yang tunjukkan maknanya tidak berpengaruh yaitu lafal mujmal. Pendapat ini dibangsakan oleh imam Al-Razi dan banyak pneliti yang memilihnya.

Dari uraian di atas sanggup diketahui dua hal penting yakni :
Pertama, dalam membicarakan Muhkam tidak ada kesusahan, muhkam yaitu ayat yang terperinci atau rajih maknanya.
Kedua, pembicaraan wacana Mutasyabih mengakibatkan persoalan yang perlu dibahas lebih lanjut.