PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN TPS (THINK, PAIR, SHARE)

PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN TPS (THINK, PAIR, SHARE)

PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN TPS (THINK, PAIR, SHARE)

PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN TPS (THINK, PAIR, SHARE)
PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN TPS (THINK, PAIR, SHARE)

Pendidikan

adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan susana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara” menurut UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003. Dalam pendidikan terdapat tiga komponen penting, yaitu pendidik, peserta didik dan fasilitas. Dalam kaitannya butir (1) pasal 40 UU Sisdiknas, tentang kewajiban pendidik untuk menciptakan susasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis dan dialogis yang diharapkan dengan terciptanya suasana tersebut, peserta didik lebih memahami materi yang diajarkan guru.
Di kalangan umum, terutama siswa sekolah dasar, menengah dan perguruan tinggi, belajar tidak pernah menjadi hal yang menyenangkan bagi mereka, belajar dipandang sebagai musuh yang patut dijauhi, kini belajar adalah hal yang menyenangkan dan nyaman tanpa perasaan cemas, takut, dan lelah dengan panduan dari pembelajaran.
Salah satu model pembelajaran kooperatif yang dapat dipilih agar belajar menjadi suatu hal yang menyenangkan adalah model pembelajaran think, pair and share. Model pembelajaran ini dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa bersama pasangan kelompoknya untuk merumuskan jawaban dari pertanyaan yang telah diajukan guru. Siswa dapat mengembangkan kemampuan mengungkapkan ide atau gagasan dengan kata-kata secara verbal dan membandingkannya dengan ide orang lain dan mendapatkan pemahaman dari ide yang diujinya sendiri. Interaksi yang terjadi selama pembelajaran dapat meningkatkan motivasi dan memberi rangsangan untuk berpikir sehingga bermanfaat dalam proses pembelajaran jangka panjang.
Model pembelajaran kooperatif tipe TPS merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang telah memiliki prosedur yang ditetapkan secara eksplisit untuk memberi siswa lebih banyak untuk berfikir , menjawab dan saling membantu satu sama lain. Metode pembelajaran ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengemukakan jawaban yang sangat tepat, serta mendorong siswa untuk meningkatkan kerja sama antar siswa.

Penelitian yang dilakukan oleh Lailatul Mufidah, Dzulkifli Effendi, dan Titi Teri Purwanti berdasarkan jurnal Vol.1, No.1, April 2013 ISSN: 2337-8166 menggunakan metode penelitian TPS sebagai alat untuk menjawab rumusan masalah sehingga tercapai tujuan penelitian. Model TPS sebagai metode penelitian yang sistematis dan fleksibel dan bertujuan untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa mmelalui analisis yang berulang-ulang (iterative analysis), mendesign atau memperbaiki design sebelumnya, dan pelaksanaan (implementation) berdasarkan kerjasama diantara peneliti dan pelaksana dalam lapangan (daily life settings), dan mengacu pada design teori-teori dan prinsip-prinsip secara kontekstual.

Apa itu Pembelajaran Kooperatif?

Pembelajaran kooperatif adalah salah satu bentuk pembelajaran yang berdasarkan paham konstruktivis. Pembelajaran kooperatif merupakan strategi belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap siswa anggota kelompok harus saling bekerja sama dan saling membantu untuk memahami materi pelajaran. Dalam pembelajaran kooperatif, belajar dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran.

pembelajaran kooperatif

Model pembelajaran kooperatif adalah salah satu model pembelajaran yang menempatkan siswa sebagai subjek pembelajaran (student oriented). Dengan suasana kelas yang demokratis, yang saling membelajarkan memberi kesempatan peluang lebih besar dalam memberdayakan potensi siswa secara maksimal. Peran guru dalam pembelajaran kooperatif sebagai fasilitator, moderator, organisator dan mediator terlihat jelas.

Siapa Pengembang Pembelajaran TPS (Think Pair Share)?

Salah satu contoh pembelajaran kooperatif adalah TPS (Think Pair Share). Model pembelajaran Think-Pair- Share (TPS) dikembangkan oleh Frank Lyman dkk dari Universitas Maryland pada tahun 1985. Model pembelajaran Think-Pair-Share (TPS) merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif sederhana. Teknik ini memberi kesempatan pada siswa untuk bekerja sendiri serta bekerja sama dengan orang lain. Keunggulan teknik ini adalah optimalisasi partisipasi siswa (Lie, 2004).

Apa Keunggulan Pembelajaran TPS (Think Pair Share)?
Dengan model pembelajaran ini siswa dilatih bagaimana mengutarakan pendapat dan siswa juga belajar menghargai pendapat orang lain dengan tetap mengacu pada materi/ tujuan pembelajaran. Think pair share dirancang untuk mempengaruhi interaksi siswa. Struktur ini menghendaki siswa bekerja saling membantu dalam kelompok-kelompok kecil.

keunggulan pebelajaran tps

Think Pair Share (TPS) merupakan suatu teknik sederhana dengan keuntungan besar. Think Pair Share (TPS) dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mengingat suatu informasi dan seorang siswa juga dapat belajar dari siswa lain serta saling menyampaikan idenya untuk didiskusikan sebelum disampaikan di depan kelas. Selain itu, Think Pair Share (TPS) juga dapat memperbaiki rasa percaya diri dan semua siswa diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam kelas. Think Pair Share (TPS) sebagai salah satu metode pembelajaran kooperatif yang terdiri dari 3 tahapan, yaitu thinking, pairing, dan sharing. Guru tidak lagi sebagai satu-satunya sumber pembelajaran (teacher oriented), tetapi justru siswa dituntut untuk dapat menemukan dan memahami konsep-konsep baru (student oriented).
Model pembelajaran Think-Pair-Share (TPS) adalah salah satu model pembelajaran yang memberi kesempatan kepada setiap siswa untuk menunjukkan partisipasi kepada orang lain. Dengan metode klasikal yang memungkinkan hanya satu siswa maju dan membagikan hasilnya untuk seluruh kelas, tipe Think-Pair-Share (TPS) ini memberi kesempatan sedikitnya delapan kali lebih banyak kepada siswa untuk dikenali dan menunjukkan partisipasi mereka kepada orang lain (Lie, 2004).
Arends (Komalasari, 2010) mengemukakan bahwa: “Model pembelajaran Think Pair Share merupakan suatu cara yang efektif untuk membuat variasi suasana pola diskusi kelas. Dengan asumsi bahwa semua resitasi atau diskusi membutuhkan pengaturan untuk mengendalikan kelas secara keseluruhan, dan prosedur yang digunakan dalam Think Pair and Share dapat memberi murid lebih banyak waktu berfikir, untuk merespon dan saling membantu. Bertitik tolak dari pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa ada tiga hal mendasar yang harus dilakukan dalam model pembelajaran Think Pair and Share antara lain; berfikir (thinking), berpasangan (pairing), dan berbagi (share).
Alternatif proses belajar mengajar dengan model pembelajaran Think Pair Share merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi murid. Hal ini dapat dilihat dalam langkah langkah dalam model pembelajaran ini, yaitu murid melakukan diskusi dalam dua tahap yaitu tahap diskusi dengan teman sebangkunya kemudian dilanjutkan diskusi dengan keseluruhan kelas pada tahap berbagi (sharing).

Pembahasan dari dua jurnal penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TPS

Berdasarkan dua jurnal yang berjudul “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TPS Untuk Meningkatkan Aktivitas Belajar Siswa Pada Pokok Bahasan Matrik”, dan “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share Untuk Memahamkan Materi Logaritma Kelas X SMKN 5 Malang menunjukkan adanya peningkatan ketuntasan belajar siswa dengan penerapan pembelajaran TPS.
Pada jurnal pertama, diperoleh berbagai data yaitu data hasil belajar siswa, data hasil pengamatan aktivitas siswa selama kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS), dan data mengenai respon siswa terhadap pembelajaran matematika dengan model kooperatif tipe Think Pair Share (TPS). Setelah dilakukan analisis dan hasil dengan materi matrix diperoleh rata-rata siswa pada siklus I yaitu 71,34. Siswa yang tuntas sebanyak 25 siswa dan siswa yang tidak tuntas 16 siswa. Tanggapan siswa tentang pembelajaran dilakukan pada setiap akhir siklus.
Pada siklus II terdapat peningkatan. Di peroleh rata-rata hasil tes yang diberikan kepada siswa pada siklus II adalah sebesar 78,87. Ketuntasan belajar klasikal sebesar 70,73 % atau sebanyak 29 siswa tuntas belajar dengan mendapatkan nilai >65 dikarenakan siswa sudah berkurangnya berbicara sendiri dengan temannya, siswa sudah mendengarkan penjelasan guru, melaksanakan latihan, menguasai materi, memberikan tanggapan hasil presentasi dari kelompok lain dengan baik,siswa sudah tidak seramai seperti pada awal pembelajaran. Pada siklus II aktivitas siswa ada peningkatan dibandingkan dengan siklus I, prosentase tebesar >50% dikarenakan memperhatikan penjelasan guru,mengerjakan latihan dari guru dengan baik, siswa tidak ada yang sibuk berbicara sendiri dengan temannya, tidak ada yang bermain hp ataupun makan didalam kelas,tidak ada yang sibuk mengerjakan PR didalam kelas, siswa tidak lagi berjalan jalan atau berkeliling didalam kelas.
Pada siklus III terdapat peningkatan. Diperoleh rata-rata hasil tes yang diberikan kepada siswa pada siklus III adalah sebesar 82,02. Ketentuan belajar secra klasikal sebesar 85,36% atau sebanyak 35 siswa memperoleh nilai > 65. Pada siklus III aktivitas siswa lebih meningkat lagi dibandingkan dengan siklus I dan II. Ditandai dengan perolehan prosentase hasil observasi yang tinggi yaitu rata-rata > 50 % dikarenakan memperhatikan penjelasan guru,berdiskusi atau bertanya, bekerja dengan kelompok, mempresentasikan kedepan kelas dengan baik,memberikan tanggapan, melaksanakan latihan,dan siswa sudah tidak ada yang bermain hp ataupun makan didalam kelas,tidak ada lagi yang memintak ijin keluar kelas ke kamar mandi,dan tidak ada lagi siswa yang berkeliling atau berjalan-jalan di dalam kelas,tidak ada siswa yang sibuk mengerjakan PR.
Pada jurnal kedua juga terdapat peningkatan hasil belajar, tetapi berdasarkan hasil observasi, catatan lapangan, maupun nilai tes siswa pada siklus I masih terdapat kelemahan-kelemahan selama proses pembelajaran dan target atau kriteria ketuntasan belajar siswa belum tercapai. Kelemahan-kelemahan tersebut antara lain adalah sebagai berikut (1) siswa banyak yang bergurau pada saat pembelajaran berlangsung, terutama pada saat tahap pair, (2) siswa melakukan kegiatan dengan lambat, sehingga waktu terlaksananya pembelajaran melebihi alokasi waktu pada rencana pelaksanaan pembelajaran, (3) siswa belum memahami materi prasyarat logaritma yaitu materi eksponen dan bentuk akar, (4) siswa tidak mau bekerja sama dengan kelompoknya, (5) masih terjadi kesalahan dalam menuliskan simbol, yang dapat mengakibatkan kesalahan dalam mengerjakan soal, (6) hasil tes akhir siklus I yaitu hanya 5 siswa yang mendapat nilai ≥70 dan 23 siswa lainnya mendapat nilai˂ 70. Dan menurut peneliti, pembelajaran masih perlu ditingkatkan dan diperbaiki agar tujuan pembelajaran dapat tercapai.
Untuk pemahaman siswanya, berdasarkan hasil analisis nilai tes akhir siklus siswa pada siklus II, terdapat peningkatan ketuntasan belajar dari siklus I ke siklus II yaitu 46,4%. Pembelajaran menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe think pair share belum maksimal dalam mencapai target yang diharapkan peneliti dikarenakan hasil pengerjaan LKS, Latihan soal pada kegiatan dalam LKS masih banyak yang salah dan diperkuat oleh hasil pengerjaan soal tes akhir siklus I siswa dengan persentase ketidaktuntasan yaitu 82,1%. Dari hasil pengerjaan LKS, kegiatan dalam LKS dan tes akhir siklus I masih banyak siswa yang tidak dapat mengaplikasikan sifat-sifat logaritma dalam mengerjakan soal, dan banyak kesalahan dalam menuliskan simbol-simbol logaritma.
Pada siklus II sudah ada peningkatan nilai akhir siklus siswa yaitu dari siklus I dengan rata-rata 49 ke siklus II rata-rata 69,6 dengan peningkatan ketuntasan klasikal 46,4%. Pada siklus I siswa yang tuntas belajar sebanyak 5 siswa dan pada siklus II siswa yang tuntas belajar meningkat menjadi 18 siswa. Pembelajaran menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe think pair share untuk memahamkan materi logaritma pada siswa dapat dikatakan belum memahamkan karena masih banyak terdapat kesalahan pada pekerjaan siswa dalam mengerjakan LKS dan latihan soal yang diberikan oleh peneliti. (http://www.tribunnews.com/member/ojelhtcmandiri/)