Proses dan Pengelolaan Kemasaman Tanah

Proses dan Pengelolaan Kemasaman Tanah

Proses dan Pengelolaan Kemasaman Tanah

Proses dan Pengelolaan Kemasaman Tanah
Tanah asam merupakan tanah yang sering terdapat atau sering ditemukan di wilayah beriklim tropika basah. Hal ini dapat terjadi kerena curah hujan yang tinggi yang mampu mencuci basa tanah. Tanah asam dipengaruhi oleh ketersediaan  garam  di dalam tanah atau air selalu berada dalam jumlah yang bervariasi, baik kadar maupun jenisnya (Budi dan Sari, 2015). Kadar garam dinyatakan dalam % mmhos/cm, atau ms/cm. Garam dalam tanah dan air bersumber dari :
  1. Pelapukan merupakan penghasil berbagai senyawa berupa klorida, nitrat, sulfat, karbonat, dan bikarbonat termasuk garam.
  2. Salinisasi adalah peristiwa yang terjadi di daerah kering dan panas yang merupakan gerakan garam dari profil  tanah bagian bawah ke bagian atas. Bagian atas terjadi penguapan  intensif, sehingga larutan garam bergerak secara kapalaritas ke atas, menguap dan meninggalkan endapan garam dipermukaan tanah. Salinisasi terjadi pada musim kemarau dan desalisasi terjadi pada musim hujan dimana proses salinasi terjadi pada tanah yang mempunyai tekstur halus sampai sangat halus.
  3. Pemupukan adalah tindakan untuk menyediakan hara bagi tanaman, biasanya berupa garam. Dosis pupuk yang tidak sesuai dengan tanaman akan menyebabkan kematian terhadap tanaman.
  4. Air laut adalah peristiwa yang terjadi pada musim kemarau air sungai menyusut dan daratan menjadi kering. Keadaan ini menyebabkan air laut mengalir ke daratan dan meresap ke dalam tanah (instrusi). Ketika air laut meresap ke dalam tanah akan mengandung garam yang dapat mempengaruhi pertumbuhan  tanaman.

 

Kemasaman tanah dibedakan menjadi dua, yaitu kemasaman aktif dan potensial. Kemasaman tanah aktif ditunjukkan oleh kepekatan ion hidrogen dalam larutan tanah. Sedangkan kemasaman potensial ditunjukkan ion hidrogen terserap pada komplek koloid dan bersifat selalu menyumbang ion tersebut ke dalam larutan tanah. Kemasaman potensial lebih berbahaya dari kemasaman aktif (Budi dan Sari, 2015).

2.4 Bahan Organik Tanah

Bahan organik tanah merupakan bahan yang berasal dari mahluk hidup mempunyai hubungan terhadap kesuburan tanah melalui banyaknya kandungan bahan organik. Jumlah bahan organik tanah dipengaruhi oleh pemberian atau penggunaan pupuk anorganik maupun organik. Penggunaan pupuk anorganik dalam jangka panjang mengakibatkan kadar bahan organik tanah semakin menurun. Sedangkan penggunaan pupuk organik yang sesuai dengan kebutuhan tanah menyebabkan peningkatan  kadar bahan  organik tanah (Budi dan Sari, 2015).
Intensifikasi pertanian melalui pendekatan pemupukan merupakan salah satu cara yang ditempuh petani untuk mengembangkan produktifitas tanaman. Pupuk merupakan komponen agroinput yang memberikan pengaruh sangat signifikan terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman. Para pentani tidak takut memberikan dosis pupuk yang berlebihan yang dianggap mampu memberikan produktifitas tanaman  yang semakin meningkat. Apabila tindakan petani dilakukan dengan jangka lama, maka kualitas  tanah terhadap bahan organik tanah akan menurun (Budi dan Sari, 2015).
Regulasi penggunaan anorganik dan organik, pupuk hayati dan pembenah tanah yang seimbang sudah sepatutnya dibuat pemerintah. Subsidi pupuk anorganik dan pupuk organik merupakan satu paket yang sudah saatnya diberikan langsung kepada petani melalui kelompok. Upaya ini merupakan bagian dari kedaulatan petani dan wujud nyata kberpihakan pemerintah.