Sebab-Sebab Mewarisi

Sebab-Sebab Mewarisi

Sebab-Sebab Mewarisi

Sebab-Sebab Mewarisi

Menurut islam, mempusakai atau mewarisi itu berfungsi

menggantikan kedudukan si mati dalam memiliki dan memanfaatkan harta miliknya. Bijaksana sekali kiranya kalau penggantian ini dipercayakan kepada orang-orang yang banyak memberikan bantuan, pertolongan, pelayanan, pertimbangan dalam kehidupan berumah tangga dan mencurahkan tenaga dan harta demi pendidikan putra-putranya, seperti suami-istri. Atau di percayakan kepada orang-orang yang selalu menjunjung martabat dan nama baiknya dan selalu mendoakan sepeninggalnya, seperti anak-anak turunya. Atau dipercayakan kepada orang yang telah banyak menumahkan kasih saying, menafkahinya, mendidiknya dan mendewasakannya, seperti orangtua. Didapatkan dalam islam beberapa sebab yang menjadi pendukung mengapa seseorang tertentu diberi kewenangan memperoleh hak waris atas harta yang ditinggalkan, sebab yang menjadi penentu ini dalam fiqih disebutkan ada 3 hal yaitu:

  1. Kerabat hakiki (yang ada ikatan nasab), diantara sebab beralihnya harta seseorang yang telah mati kepada yang masih hidup adalah adanya hubungan silaturrahmi atau kekerabatan antara keduanya. Adanya hubungan kekerabatan yang ditentukan oleh adanya hubungandarah seperti kedua orangtua, anak, saudara, paman, dan seterusnya.
  2. Pernikahan yaitu terjadinya akad nikah secara syar’I antara seorang laki-laki dan perempuan, sekalipun belum atau tidak terjadi hubungan intim (bersenggama) antara keduanya. Adapun pernikahan yang bathil atau rusak, tidak bisa menjadi sebab untuk mendapatkan hak waris.
  3. Al-wala’ yaitu kekerabatan karena sebab hukum. Disebut juga wala’al-‘itqi dan wala’an ni’mah. Penyebabnya adalah kenikmatan pembebasan budak yang dilakukan seseorang. Kenikmatan berupa kekerabatan (ikatan) yang dinamakan wala al-‘itqi. Orang yang membebaskan budak berarti telah mengembalikan kebebasan dan jati diri seseorang sebagai manusia. Oleh karena itu Allah SWT menganugerahkan kepadanya hak mewarisi terhadap budak yang dibebaskan bila budak itu tidak memiliki ahli waris yang hakiki, baik karena ada kekerabatan (nasab) ataupun ada tali pernikahan.

Artinya:orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) didalam kitab Allah (Q.S. Al-Anfal:75)


Baca Juga :