Wawancara

Wawancara

Wawancara

Wawancara
Wawancara

1. Pengertian Wawancara

Wawancara adalah tanya jawab antara dua pihak yaitu pewawancara dan narasumber untuk memperoleh data, keterangan atau pendapat tentang suatu hal.
Menurut Nazir (1988), Wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan penjawab dengan menggunakan alat yang dinamakan interview guide (panduan wawancara).

Baca Juga: Mukadimah

2. Contoh Wawancara

Wawancara dengan Pendiri Komunitas D’ULAS (Daur Ulang Sampah)

Anton : “Selamat siang, Pak.”
Pak Somat : “Siang.”
Anton : “Bolehkah kami mengobrol dengan Bapak sebentar?”
Pak Somat : “Oh, boleh. Ada apa? ”
Anton : “Kami dari tim Abs-Track ingin mewawancari bapak mengenai komunitas
D’ULAS.”
Pak Somat : “Baik, silahkan”
Anton : “Bagaimana bapak bisa terpikir untuk mendirikan komunitas ini ?”
Pak Somat : “Saya terpikir saaat melihat volume sampah di desa ini yang sangat banyak.”
Anton : “Kapan komunitas ini berdiri, Pak?”
Pak Somat : “Sejak tahun 2002.”
Anton : “Apa yang menjadi kendala bapak saat mendirikan komunitas ini?”
Pak Somat : “Kendalanya pada saat meyakinkan warga agar mau mengikuti komunitas
ini.”
Anton : “Bagaimana tanggapan warga saat pertama kali bapak mengajak mereka
bergabung?”
Pak Somat : “Pertama kali mereka memang tidak percaya bahwa sampah dapat menjadi
sumber pernghasilan yang lumayan. Walaupun seperti itu, saya terus
berusaha agar dapat meyakinkan warga.”
Anton : “Berapa volume sampah warga per harinya, Pak?”
Pak Somat : “Kurang lebih 8 kwintal per hari.”
Anton : “Bagaimana proses pengolahan sampah di komunitas ini, Pak?”
Pak Somat : “Sampah rumah tangga dari warga dikumpulkan di tempat pemilahan,
kemudian sampah tersebut dipilah antara sampah organik, non-organik, dan sampah yang tidak dapat dimanfaatkan lagi (B3). Sampah-sampah organik dapat diolah menjadi pupuk dengan menggunakan mesin yang ada di tempat khusus pengolahan pupuk. Dan sampah non-organik dapat diolah menjadi kerajinan tangan oleh ibu-ibu warga pedesaan di komunitas ini, kerajinannya dapat berupa tas, dompet, bingkai foto, dan lain-lain. Sedangkan untuk sampah B3, kami kirimkan ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) terdekat.”
Anton : “Berapa kg pupuk yang dapat dihasilkan dari sampah tersebut?”
Pak Somat : “Sekitar 15kg dan dimasukkan ke dalam karung berukuran 1kg.”
Anton : “Dan berapa harga pupuk per karungnya, Pak?”
Pak Somat : “Harganya Rp50.000“
Anton : “Kalau kerajinan tangannya?”
Pak Somat : “Kalau kerajinan tangannya bisa menjadi Rp3.000.000 sampai Rp5.000.000,
mengingat banyak sekali pesanan tas dan dompet dari luar kota.”
Anton : “Penghasilan dari pengolahan sampah ini digunakan untuk apa, Pak?”
Pak Somat : “Semua penghasilan dari komunitas ini ditabung dalam kas dan menjadi
tabungan bersama. Ketika akhir bulan, tabungan tersebut dihitung kemudian
80% dibagikan kepada anggota dan 20% lagi untuk keperluan peralatan,
bahan, dan mesin.”
Anton : “Apa yang menjadi harapan bapak kedepan tentang komunitas ini?”
Pak Somat : “Saya berharap agar pemerintah dapat membantu untuk kemajuan komunitas
ini.”
Anton : “Terima kasih atas informasi yang telah diberikan, Pak.”
Pak Somat : “Sama-sama.”